top of page

KRONOLOGI dan SEJARAH

BUKU BIMBINGAN ROHANI ILMU

QOLBU AL-QURAN (PUSAKA SAPU JAGAD CAKRA JAYA) dan AJARANNYA

  

PENGANTAR

              Segala puji bagi Allah yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya bagi kita semua, sehingga kita berada dalam lindungan-Nya. Hanya Dia-lah yang abadi, kekal sepanjang masa. Sholawat salam semoga tetap terlimpah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sang nabi akhir zaman.

       Pembaca yang budiman, puji syukur ke hadirat Ilahi sekaligus rasa bangga bercampur bahagia karena bisa berkontribusi dalam penulisan sejarah buku bimbingan rohani ilmu  Qolbu Al-Qur’an (Pusaka Sapu Jagad Cakra Jaya) dan ajarannya ini. Terima kasih yang tak terhingga juga kepada sang guru rohani, KH. Muhammad Isa Kusmiyanto, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk dijadikan sebagai saksi atas perjalanan hidup dan spiritual beliau dalam pencarian menuju makrifat billah sampai terwujudnya buku sejarah yang kini berada di tangan para pembaca yang budiman.

       Kami Hj. Islahul Hidayah Binti H. Arsyad Bin Alwi An Nawawi Al Bantani, sebagai saksi pelaku sejarah akan menyampaikan kronologi terbitnya buku bimbingan rohani Ilmu Qolbu Al-Qur’an (Pusaka Sapu Jagad Cakra Jaya) dan ajarannya. Buku ini merupakan inti sari dari surat-surat Al-Qur’an yang notabene adalah mu’jizat Nabi Muhammad SAW, getaran ayat-ayat Al-Qur’an (ilham) Muhammad Isa bukan dari iztihat sebagai sarana (bimbingan/tuntunan) umat ke arah kejernihan hati dan makrifat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Guna membentuk insan berkualitas dari sisi iman dan taqwanya. Kami selaku penyusun sejarah yang berakhlakul karimah yang berwawasan rohmatal lil alamin menceritakan dengan sebenarnya baik kisah nyata maupun pengalaman spiritual berdasarkan cerita dan saksi tentang autobiografi guru rohani (mursyid) pembimbing, penuntun dan pengijazah serta kronologis terbitnya bimbingan rohani Qolbu Al-Qur’an (Pusaka Sapu Jagat Cakra Jaya) dan ajarannya.

Anak dalam Ramalan

              Muhammad Isa Kusmiyanto lahir di kota pahlawan Surabaya Jl. Kesatriyan No. 7 Dinas Bangunan Tentara (DBT) Brawijaya pada tanggal 08 Mei 1958 dengan nama Kusmiyanto. Adapun nama Muhammad Isa adalah nama yang diperoleh dari perjalanan spiritual /rohani. Selain itu ada beberapa nama panggilan yang disematkan,  antara lain : Gus Isa, Mas Agus, Ainul Yaqin dan Joko Umbaran.

       Muhammad Isa Kusmiyanto adalah putra tunggal dari pasangan suami istri Nafi’ah Binti Muhammad Awi Bin Lani dengan Kasiran Bin Kandar (Isakandar) Babat Lamongan Jawa Timur. Taseran (alias Kasiran) adalah putra tunggal dari pasangan Syarifah dan Kandar (Iskandar). Kandar (Iskandar) hilang jejaknya dan tidak jelas kabarnya ketika putra tunggalnya masih kecil. Kandar adalah sosok yang misterius karena tidak pernah menceritakan asal usulnya, namun sebagian orang mengatakan Kandar berasal dari Bojonegoro. Waktu zaman penjajahan Belanda Kandar dikenal sebagai pejuang yang tangguh dan sakti. Sampai suatu ketika Kandar berpesan kepada istrinya “Jika nanti dia punya cucu laki-laki ajaklah sillaturahmi ke KH. Kholil Bangkalan,” sebab KH. Kholil adalah sahabat Kandar dalam berjuang.

       Saat kecil Muhammad Isa dibawa ibunya pergi ke Desa Trepan Babat Lamongan tempat kelahiran ibunya. Dan didaftarkan di kantor kelurahan pada tanggal 04 September 1959. Selama di sana Muhammad Isa diasuh oleh neneknya. Sejak kecil hingga usia 9 tahun Muhammad Isa tidak bisa berbicara dengan jelas  atau ‘gagok’ (cedal). Pada usia 5 tahun Muhammad Isa sudah diajari menggembala kambing. Setiap Jum’at Wage tepat di hari kelahirannya, Muhammad Isa rutin dibawa neneknya untuk silaturrahmi kepada KH. Abdul Hamid Pasuruan untuk dido’akan dan digosok lidahnya dengan emas. Muhammad Isa sangat disayang oleh neneknya dan berpesan bahwa “Cucunya kelak akan menjadi panutan banyak orang”  sebagaimana juga pesan KH. Abdul Hamid Pasuruan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       Menurut Suradi dan Kasiro, kedua orang tua Muhammad Isa melakukan riyadloh (tirakat) di makam Sunan Giri Gresik selama beberapa hari. Setelah selesai Riyadhoh, juru kunci Makam Sunan Giri memberi buah mengkudu supaya dimakan, alhamdulillah dengan ikhtiar tersebut Allah SWT mengabulkan permohonan kedua orang tuanya berupa keturunan.

       Ibu Muhammad Isa mengandung selama 18 bulan. Suatu peristiwa aneh terjadi saat usia kandungan 7 bulan,  dimana tiba-tiba isi kandungan hilang dan mendapat 2 (dua) buah batu, salah satu batu seperti bola mata dan yang lain berwarna kuning keemasan berkilau. Berselang satu bulan berikutnya isi kandungan Ibunya kembali membesar lalu menurut hasil pemeriksaan Bidan setempat usia kandungan sudah 8 bulan dan kurang 2 bulan lagi si janin akan lahir, ternyata prediksi tersebut meleset jauh sampai 11 bulan kemudian baru dilahirkan.

Bidan yang menangani proses persalinan adalah Ny. S. Harsono di KMKB Jl. Gubeng Pojok dekat Stasiun Gubeng Surabaya Jawatan Kesehatan & IV Brawijaya pada hari Kamis Pon Malam Jum’at Wage pukul 20.45 tanggal 08 Mei 1958.
       Muhammad Isa tumbuh di desa Trepan Babat Lamongan di kediaman nenekmya dalam keadaan serba kekurangan. Sejak kecil sudah ditinggalkan Ibunya untuk mencari nafkah, karena bapaknya telah meninggal dunia sejak Muhammad Isa masih bayi.

Masa Sekolah

  Meski dalam kondisi yang serba kekurangan, keluarga Muhammad Isa tetap memperhatikan pendidikannya. Muhammad Isa mengenyam pendidikan sekolah dasar, merangkap sekolah di madrasah hingga tamat. Setelah itu, meneruskan sekolah ke SMP Negeri Babat.

    Muhammad Isa bisa diterima di SMP Negeri 1 Babat dengan jalur prestasi dimana pada saat itu jarang sekali orang yang bisa bersekolah di SMP Negeri 1 Babat, bahkan Muhammad Isa adalah satu-satunya anak di kampung halamannya (Desa Trepan) yang bisa meraih prestasi dengan karunia kecerdasan dari Allah SWT.

 Saat Muhammad Isa duduk di bangku kelas III SMP, nenek yang merawat dirinya dibawa cucu yang lainnya ke Surabaya hingga berbulan-bulan lamanya. Selama itu pula, Muhammad Isa tinggal seorang diri sambil berternak kambing. Saat liburan pertengahan semester kelas III, Muhammad Isa pergi ke Surabaya bermaksud untuk menjemput neneknya, namun sesampainya di sana pamannya melarang sang nenek untuk kembali lagi ke Lamongan. Akhirnya bersama dengan ibundanya, Muhammad Isa memutuskan untuk pindah sekolah di Surabaya. Kemudian dia menuntaskan sekolah hingga lulus di SMP swasta PANCA JAYA yang berlokasi di Dukuh Kupang Surabaya.

Mengingat kondisi keluarganya yang serba kekurangan, Muhammad Isa tidak serta merta bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Selama kurang lebih 3 tahun Muhammad Isa berhenti sekolah. Selama itu pula Muhammad Isa bekerja pada seorang dokter yang bernama Sasongko untuk membantu di tempat prakteknya. Sambil bekerja membantu dokter Sasongko, Muhammad Isa juga mengikuti kursus kepegawaian Administrasi/KPA Negeri Surabaya selama 2 tahun, hingga lulus pada tanggal 04 Mei 1979. Semangat belajar Muhammad Isa tidak pernah padam dan bercita-cita ingin belajar di fakultas kedokteran. Cita-cita tersebut kemudian diutarakan kepada dokter Sasongko, bak gayung  bersambut, Muhammad Isa diberi saran untuk mengikuti ujian persamaan tingkat SMA. Saran ini pun diikutinya dan menempuh pendidikan terbuka lebih cepat dari yang diduga. Muhammad Isa mampu menyelesaikan pendidikan tersebut dan berhasil mengikuti ujian persamaan tingkat SMA hanya dalam kurun waktu enam bulan. Ujian persamaan ini berhasil ditempuhnya dengan lulus pada tahun 1980 di SMA NEGERI 5 Surabaya.

Kemudian Muhammad Isa mendaftar ke perguruan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dibantu oleh dokter Sasongko. Berkat kecerdasan dan kemampuan akademik yang dimiliki, Dekan Fakultas Kedokteran menjadikan Muhammad Isa sebagai Asisten Dosen Ilmu Bedah Umum dan Ilmu Anatomi sampai semester IV. Selanjutnya, secara berturut-turut Muhammad Isa ditugaskan untuk melakukan beberapa studi banding, di antaranya : 

a) RS. Dr. Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran Bandung selama 1 tahun.

b) RS. Dr. Cipto Mangun Kusumo/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selama  6 bulan.

 

 

 

c) RS. Dr. Syaiful Anwar/Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang selama 6 bulan.

 

 

 

 

d) RS. Ulin Banjarmasin studi banding dan penelitian tentang Ilmu Kesehatan Anak selama  6 bulan.

 

 

 

 

       Pada saat menjalankan tugas riset, Muhammad Isa jatuh sakit hingga mengalami koma (mati suri) selama 2 tahun. Diluar dugaan, dari kejadian tersebut Allah SWT mencabut ilmu pengetahuan Muhammad  Isa di bidang kedokteran yang Allah titipkan kepada dirinya. Sebagai gantinya, Allah SWT memberikan Muhammad Isa kemampuan lain, yaitu Ilmu Tauhid khususnya pengenalan diri menuju makrifat kepada Allah SWT. Tanpa disadari, rupanya keistimewaan ini telah diterima Muhammad Isa sejak kecil dengan perjalanan rohani menuju kepada Allah SWT melalui getaran qolbu (ilham) lewat ayat-ayat Al-Quran.

       Semasa kecil, Muhammad Isa sering didapati membaca Al-Qur’an sambil menangis. Pengetahuan Muhammad Isa di bidang agama pun terlihat lebih menonjol dibanding teman-temannya. Pernah suatu ketika dirinya menghilang hingga lima tahun lamanya dan fase ini adalah bagian dari perjalanan rohaninya untuk mengenal Allah SWT lebih  dekat.

       Setelah memasuki usia dewasa Muhammad Isa sering melakukan perjalanan dan bersilaturrahmi ke beberapa pesantren sebagaimana kebiasaan neneknya dahulu. Pada masa ini, penampilan Muhammad Isa cenderung terlihat tidak terawat, berambut dan berjenggot panjang. Hingga suatu ketika, disaat Muhammad Isa melakukan perjalanan rohani dalam kurun waktu yang cukup lama, dirinya seolah diingatkan Allah untuk segera pulang menemui ibunya.

       Kesukaan Muhammad Isa bersilaturrahmi ke berbagai pesantren tersebut terus berlangsung hingga menjelang menikah. Bahkan setelah beristri terkadang masih melakukan silaturahmi dan berziarah ke makam auliya di seluruh Indonesia. Selama perjalanan tersebut Muhammad Isa tidak pernah merasa segan untuk berdakwah mengajak orang-orang tidak pandang status dan jabatan, kondisi apapun dijalani untuk mengajak umat kembali kepada Allah “fafirru ilallah”. Tak jarang Muhammad Isa mendapati hinaan, caci maki dan fitnah. 

       Pernah suatu ketika, saat melakukan silaturrahmi ke desa Semboro Blora Jawa Tengah, dirinya kehilangan KTP. Walaupun sudah melapor ke kepolisian setempat, Muhammad Isa tetap mendapat fitnahan dari warga sekitar, mereka menuduhnya sebagai orang yang identitasnya tidak jelas. Bahkan warga pun sempat melaporkannya ke POSPOLKB Blora. Tidak cukup sampai di situ, nama Muhammad Isa sampai dicemarkan hingga masuk pada media massa koran Suara Merdeka yang meliput kejaidan tersebut, tepatnya pada awal bulan Januari 1995.

       Pada kesempatan lain, Muhammad Isa juga berdakwah di berbagai mushola dan pondok pesantren. Dia juga merintis Pondok Pesantren Darussalam di Omben Sampang Madura bersama KH. Asy’ari Munir, dan mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Hidayah bersama KH. Adang Dimyati di daerah Kamal Madura.  Pesantren ini berdiri di atas tanah wakaf pemberian  Muhammad Isa.

Mendirikan Yayasan

Pada tanggal 2 September 1997, Muhammad Isa mendirikan sebuah yayasan yang bernama Yayasan Perjuangan Insan Sadar Mandiri (YPISM). Tujuan berdirinya yayasan ini adalah untuk mengajak manusia kembali kepada Allah “fafirru ilallah wa Rosulullah” di desa Trepan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Karena suatu hal, pada tahun 2000 YPISM disuruh pindah dari ke Desa Trepan.

Beberapa waktu kemudian, berkah dari kesabaran, ketabahan, keuletan dan kegigihannya, Allah SWT memberi fasilitas tempat berjuang lagi yaitu di Tembalang di sekitar Universitas Diponegoro Semarang. Namun hal ini tidak berjalan lama dikarenakan banyaknya fitnah yang dituduhkan kepada Muhammad Isa dan yayasannya. Kemudian Muhammad Isa pun meninggalkan tempat perjuangan tersebut. Sebagai penggantinya, di tempat tersebut didirikan yayasan Insanul Iman. Tidak jauh dari kondisi sebelumnya, yayasan ini pun mendapatkan hambatan dari kalangan tertentu. Beberapa pihak yang berkepentingan mendesak Muhammad Isa untuk segera membekukan yayasan Insan sadar mandiri dengan berbagai alasan yang tidak jelas. Tentu saja Muhammad Isa menolak dengan tegas. Sebagai akibatnya, mereka memisahkan diri dari barisan. Muhammad Isa tinggal seorang diri, tiada sanak saudara. Sementara yang bisa dilakukannya adalah berserah diri kepada Allah SWT serta mengharap tarbiyah dan syafaat dari Rosulullah.

Rupanya ikhtiar dan doa yang selama ini dipanjatkannya dikabulkan oleh Allah SWT. Muhammad Isa bertemu dengan orang yang berasal dari Gresik bernama H. Ainur Rusdi yang sedang diterpa masalah. Muhammad Isa pun menawarkan jasa untuk membantu menyelesaikan permasalahannya dengan berdo’a secara istiqomah dan bermujahadah untuk memohon kepada Allah SWT di rumah orang tersebut.

Berselang tidak lama ujian kembali datang menimpa Muhammad Isa, lagi-lagi berupa fitnahan hingga H. Ainur Rusdi menanyakan langsung kepada Muhammad Isa perihal berita yang dimaksud sekaligus menawarkan solusi untuk menikahkan Muhammad Isa dengan saya (Hj. Islahul Hidayah) yang sekaligus kakak dari H. Ainur Rusdi.

Segera Muhammad Isa meminang saya dan pada tanggal 4 Januari 2002 (18 Syawal 1423 H) bertepatan dengan hari Jum’at Kliwon pukul 09.00 WIB, Muhammad Isa resmi menikah dengan saya di desa Sukomulyo Manyar Gresik.

Berita duka pun tak ketinggalan mengiringi pernikahan kami, tepatnya lima hari menjelang akad nikah ibu kandung saya, Hj. Maimunah, meninggal dunia.

Setelah menikah, Muhammad Isa (Gus Isa) menetap di Gresik. Tradisi yang biasa dilakukan oleh orang tua tetap kami teruskan, yakni khataman Al-Qur’an setiap hari Jum’at. Hampir setiap hari Muhammad Isa (Gus Isa) mendapat ilham melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan mencari penjelasannya. Pada waktu itu, sempat timbul keraguan dalam hati saya, karena ketidakfasihan Muhammad Isa dalam membaca Al-Quran. Hal ini saya ketahui ketika kegiatan rutin khataman Al-Qur’an setiap hari Jumat, namun tetap saya pendam demi menghormati suami saya.

Kehidupan rumah tangga kami banyak mengalami ujian dan cobaan. Karena cobaan semakin kuat, akhirnya saya meminta kepada suami untuk pindah ke tempat asalnya di Trepan Babat Lamongan.

Setelah menetap di Lamongan, saya berusaha menggali informasi sebanyak mungkin untuk mengenal lebih jauh suami saya. Pada akhir Maret tahun 2002, saya mendapati beberapa dokumen penting, di antaranya akta notaris yayasan, surat perijinan pendirian yayasan, surat pemberitahuan kepada kepala desa setempat dan Kantor Urusan Agama mengenai perintisan cikal bakal pondok pesantren dan situasi tempat merintis pondok pesantren. Sebuah tanda tanya besar muncul dalam pikiran saya tentang siapa sebenarnya Gus Isa?, sebab menurut pandangan saya orang yang bisa mendirikan sebuah pesantren haruslah ahli dalam bidang agama dan berkharisma tinggi, sementara suami saya tidak demikian adanya. Kira-kira bagaimana, seperti apa dan apa saja yang akan diajarkan suami pada santri-santrinya nanti. Demikian pertanyaan yang selalu bergejolak dalam hati saya. Keraguan yang saya rasakan pun semakin lama semakin membesar.

 

Dalam kondisi yang serba tidak menentu, sekira 14 hari setelah tinggal di kediaman suami, muncul kejadian yang tidak terduga. Saat itu saya sedang menjahit baju di ruang belakang, tiba-tiba muncul keinginan saya untuk menyampaikan segala keresahan dan keraguan kepada Gus Isa. Di saat bersamaan, Gus Isa keluar dari kamar depan sambil membawa tafsir Al-Qur’an dan mengatakan jika dia baru saja mendapat getaran ayat-ayat Al-Qur’an, Gus Isa membacakan beserta terjemahannya. Saya sungguh terkejut karena isi kandungan ayat tersebut adalah sesuai dengan isi hati saya. Kemudian saya menanyakan kepada Gus Isa tentang bagaimana cara dia mendapatkan ayat Al-Qur’an tersebut. Gus Isa pun menjawab bahwa hatinya selalu bergetar sebelum kemunculan ayat Al-Qur’an tersebut dalam hatinya.

Berawal dari kejadian itu, Gus Isa teringat kembali pengalaman masa kecilnya. Saat itu, dia sering didatangi 3 orang laki-laki tak dikenal mengajarinya membaca surat Al-Fatihah dan Sholawat Wahidiyah. Dia juga teringat pesan kakeknya kepada sang nenek untuk mengajak Gus Isa berziarah ke makam KH. Kholil Bangkalan. Dan di makam waliyullah ini Gus Isa mendapatkan 2  amalan dari 2 ulama besar, berupa :

1. Amalan Al-Fatihah yang di-ijazah-kan oleh KH. Abdul Hamid Pasuruan.

2. Amalan Shalawat Wahidhiyah yang dikeluarkan oleh KH. Abdul Majid Ma’roef Kedunglo Kediri.

Setelah dewasa, Gus Isa mencoba menelusuri kepastian amalan yang sudah didapatkannya sewaktu dirinya masih kecil dulu. Mula-mula, dirinya bersilaturrahmi ke KH. Abdul Hamid di Pasuruan. Saat bertemu dengan salah satu ulama besar di Indonesia ini, Gus Isa merasa kaget. Dia mendapati wajah KH.Abdul Hamid begitu mirip dengan orang asing yang mengajarkan surat Al-Fatihah sewaktu dirinya masih kecil dulu. Namun, saat ditanyakan kepada waliyullah tersebut, beliau mengatakaan jika yang menemui Gus Isa itu bisa jadi malaikat.

Berikutnya Gus Isa bersilaturrahmi ke KH. Abdul Majid Ma’roef di Kedunglo Kediri, untuk menanyakan perihal amalan yang Gus Isa peroleh waktu kecil, jawaban KH. Abdul Majid Ma’roef pun sama dengan jawaban KH. Abdul Hamid di Pasuruan. Bahwa orang asing yang mengajarinya di masa kecil kemungkinan adalah malaikat.

Dari kejadian-kejadian di atas, saya berkesimpulan bahwa Gus Isa memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh manusia lain. Dan dengan kelebihan tersebut,  Allah pasti memiliki maksud tersendiri kepada Gus Isa, yaitu agar Gus Isa (suami tercinta) tetap fokus dan konsen berdakwah melalui intisari ayat Al-qur'an dengan media getaran hati sebgai ciri khas beliau.

Saya mulai yakin dan bercita-cita mengabdikan diri untuk  membantu perjuangan Gus Isa. Namun iktikad baik ini masih tersusupi keraguan, kekhawatiran, ketakutan dan was-was. Tanpa disangka, Gus Isa kembali mendapat semacam ilham berupa ayat Al-qur'an di iringi getaran hati yang menjawab kegelisahan hati saya.

QS. Asy-Syu’araa (Para Penyair) Ayat 15 : 

قَالَ كَلَّا ۚفَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَ ۙ

Qāla kallā, fażhabā bi'āyātinā innā ma‘akum mustami‘ūn(a).

 

Dia (Allah) berfirman, “Tidak (mereka tidak akan dapat membunuhmu). Maka, pergilah berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat). Sesungguhnya Kami menyertaimu mendengarkan (apa yang mereka katakan).

Dengan kejadian ilham yang kedua ini, hati saya semakin yakin dan semangat untuk mendukung perjuangan Gus Isa dalam berdakwah. Sejak saat itu, saya berniat untuk melakukan ibadah sholat malam secara istiqomah. Tak lama kemudian, Gus Isa mendapat getaran dalam hati kembali (ilham), yakni berupa :

QS. Al-Muzzammil (Orang yang Berselimut) ayat 1-4 :

1.           يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ

Yā ayyuhal-muzzammil(u).

Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad)

 

2.           قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ

Qumil-laila illā qalīlā(n).

bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil

 

3.           نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ

Niṣfahū awinquṣ minhu qalīlā(n).

(yaitu) seperduanya, kurang sedikit dari itu

 

4.      اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

Au zid ‘alaihi wa rattilil-qur'āna tartīlā(n).

atau lebih dari (seperdua) itu. Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

 

Tiga kejadian di atas semakin menambah kuat keyakinan saya untuk mendukung perjuangan Gus Isa. Terlebih, cara beliau mendapatkan ilham dari Allah masih terbilang langka. Bahwa Gus Isa bisa menjawab/menerobos isi hati seseorang dengan seijin Allah SWT, tanpa disadari oleh Gus Isa sendiri. Meski demikian, Gus Isa tidak sekali pun merasa memiliki kelebihan tersebut. Bahwa dirinya bisa membaca atau mengetahui isi hati orang lain dengan cara Allah memberikan ilham berupa getaran di hati yang berisikan ayat-ayat al-Qur’an.

Dalam Kitab Jami’ul Ushul diterangkan bahwa :

لـَهُ سِرٌّ يَسْـِريْ فِيْ الـْعَالـَـِم كـَمَا يَسْـِريْ الرُّوْحُ فِيْ الجَسَـِد اوْ كَمَا يَسْـِريْ المَآءُ فِي الشَجَـِر

 Artinya :

       “Beliau memilik Sirri yang dapat menerobos keseluruhan alam seperti meratanya roh dalam jasad atau seperti menerobosnya air dalam pepohonan.”

 

PERJALANAN ROHANI

Akhirnya saya mengajak Gus Isa mencari sarana biaya untuk membangkitkan perjuangannya yang sempat vakum, karena ulah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kami berencana memulai hidup baru dengan berjualan obat-obatan yang diproduksi di Tasikmalaya Jawa Barat. Sambil berjualan Gus Isa juga berdakwah menyampaikan ayat-ayat Allah kepada umat dengan cara ber-mujahadah.

Selama perjalanan menuju Tasikmalaya untuk menjalani training product knowledge, terlebih dulu Gus Isa mengajak saya untuk napak tilas perjuangannya di Kudus. Dari Kudus kami bertolak ke Demak, disana Gus Isa menunjukkan dua buah rumah yang sangat sederhana yang dulu pernah digunakan untuk bermunajah dan berdo’a bersama para santrinya selama hampir 7 bulan secara bergantian.

Yang tidak lain itu adalah rumah Almarhum Bapak Mukhlas, desa ngeloh wetan demak jateng. Kami bersilaturahim ke Bapak mukhlas lalu beliau menceritakan pada saya tentang kejadian 17 ramadhan tahun 1997 timbulnya BNI rekening rawamangun (rekening sejarah).

Dari Demak kami terus melanjutkan perjalanan menuju Tasikmalaya. Selama di perjalanan, setiap kali melewati gunung, Gus Isa mengatakan kepada saya bahwa dia pernah berada di puncak gunung tersebut. Mendengar cerita Gus Isa tersebut akal saya tidak mampu mencernanya, sebab tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk ke dalam kawah gunung.

Setibanya di kota Tasikmalaya, kami tinggal di rumah Bapak Eman Sulaiman di kampung Bantar untuk menjalani training produk obat-obat kesehatan. Singkat cerita, sepulang dari Tasikmalaya, kami berdua singgah di Cirebon untuk bersilaturahmi ke salah satu kenalan Gus Isa, Omang Komarudin. Di rumah kenalannya ini, dulu Gus Isa sering mengajak para santrinya untuk bermujahadah sejak akhir tahun 1999. Dalam kesempatan kali ini Gus Isa bermaksud memperkenalkan saya sebagai istrinya kepada orang tua Omang Komarudin, sebab dari dulu Gus Isa disuruh untuk cepat menikah. Ayah Omang Komarudin bernama H. Muhammad Taryadi,SA (Eyang Sukmajati).

Silaturrahmi ke kediaman Beliau di Desa Buntet Astana Japura Cirebon kami lakukan setelah Isya’ pada pertengahan bulan Juni tahun 2002, namun Beliau belum bisa ditemui. Kami dipersilakan untuk bermalam menunggu kedatangan putranya. Akhirnya keesokan harinya kami dapat bertemu dengan Abah Taryadi (Eyang Sukmajati). Kesan pertama saya terhadap Beliau adalah orang yang berilmu tinggi dalam bidang agama, saya langsung merasa yakin jika Beliau lah yang bisa membantu saya menemukan jawaban kejadian-kejadian yang kami berdua alami. Ternyata dugaan saya benar, Setelah saya menceritakan seluruh kejadian yang kami alami berdua, spontan Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) menjawab, “Kamu berdua, kiprah perjuangan kalian ditunggu Pangeran Sapu Jagad, Baginda Rasulullah SAW dan ditunggu Eyang Priyono (Eyang Bolong) yang dikenal banyak orang dengan sebutan Kyai Sapu Jagad.” Abah Taryadi juga berpesan “Jika sudah bertemu Eyang Priyono (Ki Sapu Jagat) bilang rumah menghadaplah ke timur pada jam 09.00 pagi dengan pintu jendela di sebelah selatan terbuka lalu ucapkan “Mawar Kuning” diniati sebagai jawaban.”

Pesan tersebut membuat saya semakin bingung, lalu Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) memberi penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ‘Mawar Kuning’ adalah perlambang seorang perempuan yang sakti. Kemudian Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) menjelaskan lagi bahwa Syekh Nawawi Al-Bantani bisa pulang ke Indonesia adalah karena dijemput seorang putri dari keturunan Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Penjelasan Beliau yang ketiga ini, akhirnya bisa saya pahami dengan berkesimpulan bahwa perjuangan suami saya jika didukung oleh seorang istri Insya Allah akan mengalami kesuksesan.

HARTA PUSAKA KEJAYAAN ISLAM

Abah H. M. Taryadi, SA (Eyang Sukmajati) teringat tentang amanah Allah yang diterima pada tahun 1952 dengan gelar Pangeran Sukma Jati sebagai ‘Perestu’ semua amanah Allah SWT. Dan menurut Beliau juga, saya adalah orang yang bisa membawa kembali seseorang yang sudah dicari-cari, dan telah dipalsu oleh 40 orang dengan mengaku-ngaku bernama Muhammad Isa, sebelum kami pulang dari rumah Abah Taryadi kami diberi 2 lembar tulisan, yang isinya adalah dokumen LM/AU :

 

1. Master : Dokumen asli + SKR

2. Mister : Pemegang asli/pelimpahan

3. Monster : Logo koin untuk penagihan ke Negara mana Logo + Reg. number di batangan emas harus sama dengan koin dan dokumen

4. Asset Code : Pemegang dan nomer rekening eksekutifnya (Supaya diserahkan kepada Ibu Nyai Ratu Annisa Sumarni Sari Nande di Jakarta)

Lembar ke-2 (Dua) :

1. Ratu Annisa Sumarni Sari Nande

sebagai Koordinator pemegang Amanah, dan Sesepuh Agung Bangsa Indonesia

2. KH. Muhammad Syaifuddin Malik

sebagai Wali Amanah Bangsa Indonesia

3. Irwandi (Satrio Laksana Jaya)

sebagai Generasi Penerus dan Pemegang Surat Wasiat

 (Bunyi Kepres Khusus No. 4 Tahun 2002 oleh Megawati Soekarno Putri)

Sesuai dawuhnya Abah Taryadi “Siapa saja yang memegang dokumen LM/AU yang asli harus diserahkan kepada Koordinator Perjuangan Insan Sadar Mandiri, Hj. Islahul Hidayah, karena yang bisa mencairkan aset LM/AU tersebut adalah Yayasan Perjuangan Insan Sadar Mandiri (YPISM), jika tidak segera diserahkan sampai bulan Juli tahun 2002 akan dibekukan oleh Allah SWT. Banyak orang yang mengatakan foto kopi nilai dokumen LM/AU adalah senilai milyaran rupiah.

Akhirnya Gus Isa melakukan perjalanan dengan tujuan utama untuk mengajak manusia kembali sadar “fafirruu ila Allah” sekaligus mencari pengetahuan tentang dokumen LM/AU, namun masih belum menambah keyakinan hal tersebut, malah sebagian orang mencibir Gus Isa dengan mengatakan Gus Isa mencari harta karun. Tidak lama berselang Gus Isa mengajak saya bersilaturrahmi lagi  ke Abah Taryadi di Astana Japura Cirebon, untuk meminta keterangan yang lebih jelas tentang dokumen LM/AU serta tuduhan sebagian orang bahwa kami mencari harta karun, jawaban Abah Taryadi mengejutkan kami “Kok harta karun, harta karun itu milik kekuasaan negara, tetapi harta ini adalah harta warisan dari kakeknya.” Dengan arahan tersebut Gus Isa semakin gigih dan pantang menyerah dalam menjalankan amanatnya, walau cibiran dan hinaan serta fitnahan terus menghadang.

Dengan ketabahan dan kesabaran Gus Isa yang kuat akhirnya Allah menampakkan tanda-tanda kebenarannya dengan cara membalas orang-orang yang memfitnah Gus Isa. Balasan Allah ini tidak hanya nampak pada mereka yang membenci Gus Isa, namun juga orang-orang yang merespon atas amanah yang diterima Gus Isa, terutama dalam iman dan taqwanya. Termasuk salah satu kelebihan Gus Isa adalah kebiasaan sewaktu Gus Isa tidur selalu terjaga kadang mengigau dengan kalimah-kalimah yang mengagungkan kebesaran Allah SWT serta tiada waktu tanpa mangagungkan Allah SWT.

Dalam Kitab Jami’ul Ushul disebutkan :

قَـلـْبُهُ يَطُوْفُ اللهَ دَآئِمًا

 Artinya :

       Hatinya selalu ‘thowaf bihadlrotillah’ maknanya : Beliau memilih menderita (sengsara) dari pada disuruh berhenti menyampaikan Amanah Allah SWT yang diembannya.

Abah H. M. Taryadi. SA (Eyang Sukmajati) menyuruh kami untuk menemui seseorang yang waktu itu dipercaya sebagai Team Holding dengan alamat di Komplek Bukit Asri Ciomas Bogor.  Akhirnya kami berdua melacak ke alamat  tersebut, sesampainya di alamat tersebut kami berdua diberi penjelasan dan diperlihatkan bukti-bukti surat berharga (Obligasi), tapi tidak lama orang tersebut diberhentikan dari Team Holding oleh Sesepuh, menurut Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) semua yang dijelaskan dan diperlihatkan oleh orang tersebut memang betul dan benar semua, tapi karena ada unsur kepentingan pribadi dan kelompok dia memberi arahan yang bukan semestinya, yang dinilai sebuah kesalahan oleh para sesepuh maka terjadilah pemberhentian tersebut.

 

AMANAH CARI ILMU SESUAI DENGAN GETARAN AYAT-AYAT

AL-QUR’AN (ILHAM) GUS ISA.     

Perjalanan berikutnya adalah untuk memenuhi pesan menemui seseorang yang bergelar Ki Sapu Jagad -waktu itu keyakinan saya Sapu Jagad adalah Baginda Rasulullah SAW- kalau Eyang Priyono yang bergelar Ki Sapu Jagat dengan ciri-ciri tangan berlubang dan berjenggot panjang warna putih. Pada pertemuan pertama dengan Ki Sapu Jagad hanya Gus Isa sendiri yang menemui sebab saya masih belum bisa memahami bahasa isyarat atau sandi dalam pesan tersebut. Disitu Gus Isa mendapat pesan  untuk menemui Ki Sapu Jagad bersama istri, akhirnya pada pertemuan kedua kami berdua meluncur ke Depok Bogor Jawa Barat.

Dalam pertemuan kedua ini Ki Sapu Jagad mengambil Al-Quran untuk meminta petunjuk atau istikhoroh melalui Al-Quran atas kebenaran cerita dan sandi yang kami terima, tepatnya pada hari Ahad 16 Maulud 1424 H bertepatan dengan tanggal 18 Mei 2003 pukul 06:00 di kota Depok, dengan hasil istikhoroh yang menunjukkan kebenaran dan menguatkan bahwa suami saya ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyampaikan ayat-ayat Allah SWT yang sesuai dengan profesi untuk mengajak umat sadar fafirruu ila Allah. Pada waktu itu pula Ki Sapu Jagad memperlihatkan 2 (dua) lembar foto yaitu :

1. Foto Abah H.M. Taryadi. SA (Pangeran Sukma Jati)

2. Foto Eyang Priyono (Pangeran Sapu Jagad) berjanggut putih

Ki Sapu Jagad berpesan “Jika yang memberi amanat Pangeran Sukma Jati yang cocok dengan foto itulah yang benar karena di Cirebon ada 2 (dua) orang yang mengaku Pangeran Sukma Jati, dan yang satunya itu palsu, yang benar adalah yang sama dengan foto ini dengan alamat di desa Buntet Astana Japura, satu-satunya orang yang ma’rifat billah.”

Saya diberi uang Rp 10.000,- oleh Ki Sapu Jagad sambil berkata “Yang 9 (sembilan) itu Wali Sembilan dan yang 1 (satu) adalah Wali Kutub.” Uang tersebut digunakan untuk foto copy penjabaran Qolbu Al-Qur’an yang sudah 32 tahun dititipkan untuk diserahkan kepada orang yang berhak sebagai sarana (alat) untuk membimbing umat sadar fafirru ila Allah.

Pernah Ki Sapu Jagad menyerahkan Qolbu Al-Quran kepada orang lain yang bukan haknya walaupun itu sekretarisnya sendiri, maksudnya agar sekretarisnya menyiarkan kepada masyarakat supaya orang yang berhak segera dapat ditemui namun dikarenakan hal tersebut Ki Sapu Jagad mendapat cobaan sakit asma kurang lebih 2 tahun sebelum akhirnya Qolbu Al-Quran diserahkan kepada orang yang berhak yaitu Gus Isa.

 

Pada waktu itu pula Ki Sapu Jagad memperlihatkan kepada kami 2 (dua) lempengan Emas yaitu Emas Putih dan Emas Kuning. Hati kami berdua sedikitpun tidak tertarik dengan benda tersebut, kami berdua hanya tertarik dengan Ilmu Allah. Ketertarikan ini semakin kuat ketika saya membuka dan membaca penjabaran Ilmu tersebut. Terdapat kecocokan antara ayat-ayat dalam Qolbu Al-Quran dengan getaran (ilham) yang diterima oleh Gus Isa sepulang dari depok.

Dari depok kami bertolak ke Bogor. Kembali terjadi kejadian aneh, tepatnya ketika ada siaran berita di Buletin Siang tentang penemuan 6 (enam) peti emas lempengan di Maok Jenggot Tangerang-Banten dengan waktu penemuan yang sama persis  ketika kami menerima lempengan emas dari Ki Sapu Jagad.

Kami berdua kembali bersilaturahmi ke kediaman Ki Sapu Jagad untuk lebih meyakinkan hati kami tentang amanah ini. Ki Sapu Jagad berkata “Silaturahmi sebelumnya itulah yang benar dengan tanda-tanda yang sudah ditampakkan di televisi, yang kedua ini adalah nafsu.” Pesan Ki Sapu Jagad dalam pertemuan sebelumnya adalah berkenaan dengan tugas yang diemban oleh Gus Isa untuk memperbaiki dan membimbing aqidah manusia yang sedang bobrok (rusak). Ki Sapu Jagad juga menyampaikan bahwa Ki Sapu Jagad akan pindah. Pertemuan berikutnya dengan Ki Sapu Jagad sangat terasa berbeda dengan pertemuan sebelumnya, di mana dalam pertemuan-pertemuan berikutnya nampak ada unsur ke-manusiaannya.

Setelah kami menerima seluruh penjabaran Qolbu Al-Qur’an yang isinya adalah intisari surat-surat Al-Qur’an dimulai dari Surat Al-Fatihah sampai Surat An-Naas (30 Juz, 114 Surat), dengan satu surat bisa memiliki satu intisari atau lebih. Seluruh ajaran Qolbu Al-Qur’an yang kami terima kami haturkan kepada Abah H. M. Taryadi SA (Eyang Sukmajati) di Cirebon, beliau menerimanya sambil tersenyum, pertanda bahwa Beliau sangat senang dan berkata "Amalan semua para sesepuh adalah Qolbu Al-Qur’an ini dalam menjalankan tugasnya."

Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) memberi arahan supaya Qolbu Al-Qur’an dicetak dengan hak cipta atas nama Gus Isa, sebab Gus Isa adalah orang yang mendapat tugas dari Allah SWT, sebagai pembimbing dan penuntun umat agar kembali sadar fafirru ilallah wa Rasulullah SAW serta Gus Isa sebagai Mursyid Al-Qur’an. Jika amanah ini tidak dilaksanakan maka sesuai hasil istikhoroh kami berdua ( saya dan Gus Isa) akan diancam oleh Allah dengan ancaman neraka Wel sebagaimana maksud intisari surat Al-Maun.

Pesan Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) ilmu ini harus menjadi amalan bangsa harus disampaikan kepada umat masyarakat terutama Pimpinan Agama, tokoh-tokoh masyarakat dan pemimpin-pemimpin Negara baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebab ilmu bimbingan qolbu Al-Qur’an sebagai alat sarana menjernihkan hati ma’rifat billah warosulillah,juga sebagai penawar racun akan datangnya kemakmuran. Siapa yang menggunakan asset-aset yang diwariskan Gus Isa jika tidak memegang ilmunya (yang dikeluarkan Hj.Islahul Hidayah) akan habis dengan orangnya dan jika pemerintah tidak merespon perjuangan Gus Isa tinggal pilih apa minta makmur apa minta hancur yang lebih dahsyat dari tsunami. Ini Amanah Allah yang wajib disampaikan jangan memandang Gus Isa nya tapi pandanglah yang mengangkat yaitu Allah SWT. Dan Beliau mengatakan tentang sifat orang-orang Islam pada saat ini yang mudah terpengaruh oleh Van Der Plas  / Charles Olke Van Der Plas (Kolonialisme, Kapitalis, Komunis) yang berkedok Islam bahkan menguasai berbagai keilmuan yang meliputi : pandai dan hafal Al-Qur’an, hafal ribuan Hadist yang tujuannya untuk mengadu domba sesama umat Islam, merusak moral dan akhlaq sehingga umat Islam kehilangan arah/kepercayaan, krisis moral, menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi atau kelompok, popularitas serta harta, tahta dan wanita.

Hal ini menandakan bahwa umat Islam belum bisa memahami secara benar syiar dan dakwah para Wali Sembilan di Indonesia. Tugas ini adalah tanggung jawab dan kewajiban Gus Isa, untuk menyatukan umat Islam dalam satu imam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist, satu wadah (melalui Perjuangan Insan Sadar Mandiri), satu aqidah (Allah SWT dan Rosulullah SAW), satu tujuan (sadar fafirruu ila Allah wa Rosulullah SAW) untuk terciptanya masyarakat yang adil makmur yang selalu dapat ampunan dan ridho Allah SWT, syafa'at dan tarbiyah Rosulullah SAW, barokah, nadzroh Ghoutsu hadzaz zaman r.a. dengan pengamalan dan penerapan pengkajian Al-Quran dan Al-Hadist melalui bimbingan rohani ilmu Qolbu Al-Quran (Pusaka Sapu Jagad Cakra Jaya) dan ajarannya yang diijazahkan dan dibimbing oleh Murobbi Al-Quran yaitu Gus Isa.

Dalam buku bimbingan ilmu qolbu Al-qur’an pusaka sapu jagat dan ajarannya yang didalamnya ada shalawat wahidiyah, yang mana Gus Isa sejak kecil sudah dibimbing oleh orang yang misteri yang menyerupai Mbah Abdul Majid dan Mbah Abdul Hamid. Itu menandakan Gus Isa menerima shalawat wahidiyah berdasarkan ilham bukan dari ijtihad yang dikeluarkan oleh 2 Ulama yaitu Mbah Abdul Majid dan Mbah Abdul Hamid.

Pada tanggal 17 Agustus 2003 buku bimbingan Rohani Ilmu Qolbu Al-Quran (Pusaka Sapu Jagad Cakra Jaya) dan ajarannya mulai dicetak di percetakan Menara Kudus, yang dikepalai oleh Bpk. H. Chilman Nadjib, berselang 3 bulan buku bimbingan tersebut selesai dicetak. Cetakan pertama ini saya syiarkan ke para santri dan jamaah di Kudus, Demak, Blora, Grobogan, Solo, Yogyakarta, Semarang, Gresik, Cirebon, Depok, dan Bogor.

Ternyata sebelum cetakan Qolbu Al-Qur’an ini terdapat buku Qolbu Al-Quran yang lain dimana hanya memuat intisari surat-surat Al-Quran dan Sholawat Qubro yang dikeluarkan oleh seorang Kyai (tidak diketahui) dari Wonosobo Jawa Tengah. Orang yang menunjukkan buku tersebut menyampaikan bahwa dia sudah bertahun-tahun tidak pernah mengamalkan buku tersebut, karena tidak paham dan tidak mengerti yang dimaksud. Akan tetapi setelah orang itu menerima buku bimbingan dari saya, orang itu langsung paham dan tertarik. Kejadian tersebut saya ceritakan kepada Abah H. M. Taryadi. S.A (Eyang Sukmajati) menurut Beliau “Hal itu karena sudah masanya, sudah waktunya dan mandatnya. Dan perlu diingat suatu perjuangan yang sudah bertemu Rosulullah SAW itu shoheh (Benar).”

Abah H. M. Taryadi. S.A yang bergelar Pangeran Sukma Jati sebagai perestu semua amanah Allah SWT terkhusus untuk merestui perjuangan serta amanah Allah SWT yang dimandatkan kepada Gus Isa sebagai pewaris ilmu bidang tauhid dan akhlaq serta pewaris harta prasasti, dinasti, trusty yang selama ini dijaga oleh para sesepuh sebagai tugas dari Allah SWT, juga untuk memelihara, dan mengaturnya yang nantinya untuk syiar dan kejayaan Islam. Guna menciptakan umat yang berkualitas iman taqwanya, mewujudkan keadilan dan kemakmuran yang merata dalam masyarakat, membentuk umat Islam yang berwawasan rohmatan lil ‘alamin yang satu imam (Al-Quran dan Hadist), satu akhidah (Allah SWT dan Rosulullah SAW), satu wadah (Perjuangan Insan Sadar Mandiri), satu tujuan (sadar fafirruu ila Allah wa Rosulullah SAW).

Dalam mengemban amanah ini para sesepuh termasuk Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) dkk pernah mengalami pengalaman spiritual yang luar biasa dimana pada suatu ketika mereka diperjalankan oleh Allah SWT secara fisik dan rohani bersama seseorang yang tidak dikenal ke suatu tempat yang dikenal dengan sebutan Jabal Qof yaitu seuah gunung yang diliputi salju dan tidak nampak arahnya seperti di ujung poros dunia. Semua para sesepuh ketakutan, terutama Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) yang tertinggal sendirian, sedang yang lainnya sudah diajak kembali duluan.

Kejadian berikutnya terjadi pada tahun 1966 dimana Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) mengalami perjalanan rohani (dalam keadaan setengah jaga) dijemput seseorang yang berbaju tentara, dalam sekejap sampai di Makkah, tepatnya di sebelah barat  Ka’bah di sana ada pohon kurma kembar, tidak lama kemudian ada seorang laki-laki berjubah menghampiri mereka dengan mengendarai unta dan mengucapkan salam “Assalamualaikum ya malaikatul Jibril” kepada orang yang berbaju tentara, Beliau terkejut setelah mengetahui bahwa orang yang berbaju tentara adalah malaikat Jibril a.s. orang yang berbaju tentara membalas dengan ucapan “walaikum salam ya Rasulullah SAW.” Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) semakin terkejut, mengetahui bahwa orang yang datang berjubah dengan paras muka tampan dan bercahaya adalah baginda Nabi Muhammad SAW. Sambil tertegun Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) dipersilahkan untuk naik unta, baginda Nabi Muhammad SAW menuntun unta tersebut dan menyuruh Abah Taryadi membaca Allahu Akbar 3x, dengan seketika Abah Taryadi sudah sampai di rumah (Buntet Astana Japura Cirebon).

Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) ingin berjumpa lagi dengan Rosulullah SAW karena merasa nikmat dan senang, namun Beliau mendapat petunjuk bahwa pertemuan dengan Rasulullah SAW cukup sekali saja.

Perjalanan rohani berikutnya dialami Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) dalam keadaan setengah jaga bertemu dengan para sahabat Nabi Muhammad SAW di antaranya :

1. Sayidina Abu Bakar As Shidiq r.a.

dengan berbusana berwarna putih menyampaikan pesan fatwa amanat supaya arif, bijaksana, jujur, ulet, dan sabar.

2. Sayidina Umar Bin Khottob r.a.

memakai jubah berwarna merah dan berpesan sebagai fatwa amanat supaya adil dan tegas.

3. Sayidina Usman Bin Affan r.a.

memakai jubah berwarna hijau sedang membaca QS. Ibrohim ayat 7 yang intinya supaya selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT.

4. Sayidina Ali Bin Abi Thalib r.a.

memakai jubah berwarna hitam dan memberi fatwa amanat supaya menegakkan hukum agama dan hukum pemerintahan (negara) secara benar.

Kejadian-kejadian tersebut di atas dialami Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) dalam keadaan setengah jaga serta masing-masing terjadi dalam waktu selama 20 menit. Para sahabat Rosulullah SAW selain memberi fatwa amanat juga menyampaikan kepada Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) bahwa pertemuan ini sama dengan bertemu baginda Nabi Muhammad SAW. Busana yang dipakai para sahabat Rosulullah SAW adalah pemberian Rosulullah SAW.

 

Kejadian yang lain terjadi sewaktu saya dan suami menerima penjabaran Qolbu Al-Quran dan Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) secara sirri (ghoib)  ditemui oleh Sultan Hassanuddin Raja Banten dan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kondisi setengah jaga, Abah Taryadi mendapat pesan bahwa saya (Hj. Islahul Hidayah) diakui sebagai cicit dari Sultan Hassanuddin Raja Banten dan Syekh Nawawi Al-Bantani. Beliau bersyukur dan bangga bahwa cicitnya di takdirkan Allah bisa menemukan orang yang selama ini dicari-cari oleh para Wali Amanah yaitu Gus Isa dan sehingga terbukalah hijab Beliau berdua yaitu Gus Isa dan M.Taryadi (Eyang Sukmajati) berarti membuka tabir Amanah tahun 2002 dan direstui untuk menyusun buku Bimbingan Rohani Ilmu Qolbu Al-Quran (Pusaka Sapu Jagad Cakra Jaya) dan Ajarannya sebagai sarana untuk membimbing dan menuntun umat agar kembali sadar ma’rifat kepada Allah SWT dan Rosulullah SAW, dan nama saya disuruh mengasih tambahan Annawawi Al Bantani secara nasab memang saya memiliki keturunan dengan Sultan Hassanuddin Raja Banten dan Syekh Nawawi Al-Bantani dari jalur ayah, namun hal ini belum sempat saya ceritakan kepada Abah Taryadi (Eyang Sukmajati). Dikarnakan ayah saya tidak pernah cerita secara detail karna ada sesuatu yang dialami dalam perjalanan rohani dengan orang tuanya (kakek saya alwi) yang harus dirahasiakan sampai akhir hidup ayah saya dan kakek.

Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) menjelaskan bahwa pertemuan secara sirri dengan para Nabi, para Malaikat, dan para Wali Allah SWT bisa dipalsukan oleh Syaitan kecuali Nabi Muhammad SAW, maka siapa saja yang mengaku bertemu Rasulullah SAW pastilah itu Rasulullah SAW yang sebenarnya. Kebenaran pertemuan dengan selain Rosulullah SAW dapat dibenarkan manakala terdapat sandi-sandi khusus. Menurut  Abah Taryadi (Eyang Sukmajati)  jika Allah SWT tidak mengangkat hamba yang dipilihnya (para Wali Allah atau para sesepuh) untuk menjaga dan mengatur dunia ini, niscaya dunia ini sudah dihancurkan oleh Allah SWT.

Sejak kecil Abah Taryadi (Eyang Sukmajati)  sudah diajari orang tuanya tentang ilmu kesaktian dari Prabu Siliwangi. Beliau memiliki nasab yang tersambung hingga ke Prabu Siliwangi dari keturunan Ratu Sima kerajaan Kalingga keturunan Ke-5. Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) juga masih ada keturunan Kraton Kesepuhan Cirebon yang sudah keluar dari Kraton.

Sewaktu Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) menjalankan puasa Pati Geni yang diajarkan orang tuanya. Kemudian Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) bertemu seorang laki-laki berpeci haji yang memarahi Beliau sebab belajar ilmu seperti itu “Buang saja ilmu-ilmu itu, ilmu Rosulullah SAW itu ilmu yang benar dan yang paling tinggi tiada duanya yaitu Al-Quran dan Al-Hadist”, lalu Abah Taryadi (Beliau) diberi amalan ayat-ayat Al-Quran oleh P. Haji Hilang (nama ini adalah pemberian Abah Taryadi sebab orang yang berpeci haji setelah memarahi dan memberi amalan, lantas menghilang), setelah itu Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) membatalkan puasa Pati Geninya lalu pulang dan amalan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut diamalkan dan diterapkan oleh Beliau selama 25 tahun.

Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) menjelaskan kepada kami “Kesaktian sehebat apapun tidak menjamin bisa masuk surga, tapi orang yang sadar ma’rifat billah wa Rosulullah SAW yang bisa selamat di dunia dan akhirat. Kita harus bisa menerapkan dan konsekuen serta sungguh-sungguh dengan apa yang kita ucapkan yaitu 2 (dua) kalimat Syahadat”.

HM. TARYADI SA (PANGERAN SUKMAJATI)

Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) adalah sosok manusia yang arif, bijaksana, sederhana yang berwawasan luas, baik ilmu agama maupun ilmu umum khususnya ilmu ketatanegaraan. Beliau pernah menjabat sebagai Guru Agama, Lurah Buntet, Sesepuh DPRD Cirebon, dan juga Sesepuh Buntet dan Astana Japura, dan juga ikut merintis berdirinya Pondok Pesantren Buntet sewaktu menjabat Lurah Buntet.

Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) sering mendapat ilham lewat mimpi berupa ayat-ayat Al-Quran yang Beliau serahkan kepada KH. Abdullah Abbas. Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) juga termasuk Pejuang Hisbulloh selama berjuang melawan Belanda, Beliau pernah dibunuh oleh tentara Belanda dan mengalami 7 kali mati (Mati Surri), ceritanya setiap tertangkap oleh tentara Belanda seluruh tahanan  digantung di atas jurang yang curam dan dalam dengan batu besar dan runcing di dasarnya. Tali gantungan diputus dengan tembakan senapan, orang yang jatuh dipastikan akan menemui ajalnya. Tapi anehnya setiap giliran Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) belum sampai jatuh ke dasar Beliau sudah dihempas angin hingga jarak 60 km, sehingga anggapan tentara belanda bahwa Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) sudah jatuh ke dasar dan mati, namun ternyata Beliau mendapat pertolongan dari Allah SWT dengan dihidupkan kembali di tempat lain dan dengan nama lain, beberapa nama tersebut adalah :

1. Panji Kusumo : Daerah Suka Bumi

2. Joko Kere (Joko Tingkir) : Daerah Demak Bintoro Jawa Tengah

3. Ciong Wanoro : Daerah Jawa Barat

4. Galuh Kidul : Daerah Sumedang

5. Semplak Waja : Daerah Gunung Galunggung Tasikmalaya

6. Gagak Lumajang : Daerah Gunung Semeru Lumajang Jawa Timur

7. Pangeran Sindang Garuda : Daerah Cirebon Jawa Barat

8. Pangeran Sukma Jati : Daerah Cirebon Jawa Barat

9. Moh. Taryadi. SA : Nama Kecil Pemberian Orang Tua
 

Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) bertugas dalam tentara Hisbulloh untuk melawan tentara Belanda dan Jepang, serta membimbing dan menyelamatkan Ir. Soekarno.

Sebelum Abah Taryadi (Eyang Sukmajati) wafat Beliau memerintahkan kami untuk berhubungan dengan Abah Zainudin Bin Sainan yang nama kecilnya kancil dari suku badui. Dan Beliau lah (kancil) yang dititipi Ilmu Asmaul Husna, Beliau yang bertugas menghubungi dengan wali amanah lainnya. Lewat telfon ghaib dengan bacaan Asmaul Husna, Beliau lah yang memegang Ilmu Prabu Siliwangi dan Beliau lah juga sebagai saksi Gus Isa sewaktu diperjalankan oleh Allah dalam keadaan setengah sadar (zadap) memasuki kawah-kawah, gunung-gunung dan goa-goa yang tidak bisa dijamah oleh manusia, tepatnya tahun 2004 Eyang Kancil menyerahkan Ilmu ke Gus Isa, Ilmu tersebut (Asmaul Husna). Kata Beliau-Beliau (Eyang Sukmajati dan Eyang Kancil) bahwa Allah menjalankan Gus Isa dan diberi kelebihan mempunyai getaran Ayat-Ayat Al-Qur’an (ilham) itu adalah sandi Gus Isa sebagai bukti bahwa Gus Isa adalah orang yang ditetapkan oleh Allah SWT, sebagai mursyid Al-Qur’an, pewaris ilmu untuk ketaqwaan, keadilan dan berakhlaqul karimah serta pewaris harta purbakala (Trusty, Prasasty, Dinasty). Berdasarkan DNA untuk kemakmuran seluruh umat sedunia khususnya NKRI. Yang sudah terdaftar dalam surat wasiat di KEMENKUMHAM RI Nomor : AHU.2-AH.04.02-18582.

isa.jpeg
isla.jpeg
makam sunan giri.jpeg
97075846_2975012939248195_1307335543222173696_n.jpeg
SMPN 1 BABAT LAMONGAN.jpeg
smp pancajaya.jpeg
sman-5-surabaya.jpeg
unair kedok.jpeg
rs hasan sadikin.jpeg
rs cm.jpeg
rs sa.jpeg
rs ulin.jpeg
rm s.jpeg
abahe dgn gusdur.jpeg
foto dg hm taryadi ft.jpeg
foto dg hm taryadi ft.jpeg
qq u blog.png
foto dg hm taryadi ft1.jpeg
foto dg mbh kancil.jpeg
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

© 2023 by Yayasan Perjuangan Insan Sadar Mandiri

bottom of page